Juara yang Tidak Disambut: Pape Bouna Thiaw Dicemooh Usai Bawa Senegal Taklukkan Maroko

Suasana Memanas: Pelatih Senegal Dicemooh Usai Final AFCON yang Kontroversial

RABAT – Kemenangan Senegal di final Piala Afrika (AFCON) ternyata meninggalkan residu amarah di luar lapangan. Pelatih Senegal, Pape Bouna Thiaw, menjadi sasaran cemoohan saat meninggalkan ruang konferensi pers di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, menyusul kemenangan dramatis timnya atas tuan rumah Maroko.

Tensi tinggi ini merupakan buntut dari rangkaian insiden “memalukan” yang menodai partai puncak tersebut. Laga yang seharusnya menjadi pesta sepak bola Afrika justru berubah menjadi medan protes yang panjang dan penuh emosi.

Protes 20 Menit yang Merusak Mental

Ketegangan bermula di penghujung waktu normal ketika wasit Jean-Jacques Ndala memberikan penalti untuk Maroko setelah pelanggaran terhadap Brahim Diaz terdeteksi melalui VAR. Keputusan ini memicu kemarahan skuad Senegal; beberapa pemain bahkan melakukan aksi mogok dengan meninggalkan lapangan, sementara suporter mereka terlibat kericuhan dengan petugas keamanan.

Pertandingan sempat lumpuh selama hampir 20 menit. Jeda panjang yang penuh provokasi ini diyakini menjadi penyebab kegagalan bintang Real Madrid, Brahim Diaz, dalam mengeksekusi penalti. Tendangan ‘Panenka’ miliknya dengan mudah diamankan kiper Senegal, memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu.

Kecaman Walid Regragui

Pelatih Maroko, Walid Regragui, secara terbuka mengkritik sikap tim Senegal yang dianggap tidak profesional. “Citra sepak bola Afrika yang kita berikan hari ini sangat memalukan. Menghentikan laga selama 10 menit lebih di hadapan mata dunia adalah tindakan yang tidak berkelas,” tegas Regragui.

Regragui juga menyayangkan gangguan mental yang dialami Diaz akibat penundaan tersebut. “Dia punya terlalu banyak waktu untuk berpikir sebelum menendang, itu pasti membuatnya gelisah,” tambahnya.

Ironi Kemenangan di Tengah Cemoohan

Meski Pape Gueye akhirnya mencetak gol kemenangan menakjubkan bagi Senegal di babak perpanjangan waktu, atmosfer di area stadion tetap mencekam bagi sang juara. Saat Pape Bouna Thiaw keluar dari ruang pers untuk merayakan gelar kedua bagi Senegal, ia justru disambut dengan teriakan dan cemoohan oleh beberapa pihak yang masih kecewa dengan drama di lapangan.

Kemenangan Senegal ini memang bersejarah, namun cara mereka memprotes keputusan wasit di tengah laga menjadi noda hitam yang sulit dilupakan. Di sisi lain, Maroko harus menerima kenyataan pahit gagal mengangkat trofi di depan pendukung sendiri, ditambah kekhawatiran cedera serius yang menimpa striker mereka, Hamza Igamane.

Kini, kedua tim harus segera mengalihkan fokus ke Piala Dunia Juni mendatang, di mana Maroko telah dijadwalkan bertemu lawan berat seperti Brasil di babak penyisihan grup.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *